Thursday, 17 January 2013

Menggapai Harapan (fiksi)

Malam ini, dingin sekali setelah seharian merasakan banjir yang mengenangi berbagai jalan di Ibukota.Sedikit bersandar sambil kuselimutin kaki ini yang mulai merasakan dinginnya malam ini, sambil kulihat wajah suamiku yang sudah pulas tidurnya.Tak kusadari tanganku menyentuh sebuah foto yang berbingkai berada di bawah bantalku, sambil ku pandangin dua wajah anak yang begitu menggemaskan, wajah yang penuh harapan, mereka adalah kedua anakku, yang pertama umur sekitar tujuh tahunan dan yang kedua anak laki-lakiku yang baru berumur dua tahunan, mereka sengaja ku tinggalkan di kampung bersama neneknya karena kami disini sedang bekerja mencari nafkah demi mereka.

          Malam semakin dingin saja , berusaha ku peluk foto yang berada di pelukanku ini, ada perasaan kengen yang teramat ingin segera pulang kampung menemui mereka, tapi aku  sudah berjanji jika aku pulang nanti akan aku belikan baju baru tentunya, tapi saat ini tabunganku belum cukup untuk semuanya,sambil ku hela nafas dalam-dalam sambil berbisik dihadapan foto itu ." maafkan mama anakku , mama  belum bisa pulang bulan ini, mungkin bulan besok".Mengingat mereka yang sangat kecil aku tinggalkan dikampung bersama nenek sebenarnya membuat aku  merasa bersalah dengan mereka, karena aku merasa kurang memberi kasih sayang kepada mereka, aku terpaksa meninggalkan mereka untuk mencari tambahan keluarga dan sekedar membantu suami bekerja supaya kebutuhan kami tercukupi.Setiap aku mengingat mereka ada rasa berat hatiku karena mereka jauh dalam pelukanku, Tak terasa  air mataku menitik memandangi foto yang ada dalam dekapanku ini, sambil kembali berbisik, " maafkan mama, kalian masih sangat kecil untuk merasakan susahnya mencari nafkah , tapi mama janji akan jemput kalian setelah kalian besar nanti dan cukup mengerti akan kerasnya kehidupan. Jika mereka besar nanti kan kukasih tau, betapa sulitnya mencari nafkah di jakarta ini.Air mata ini tak lagi bisa ku bendung dan aku cukup sedih dengan keadaanku saat ini, memang berat meninggalkan mereka , tapi ini harus kami jalanin untuk kebahagian mereka nanti.

          Aku adalah penjual kue keliling ,aku keluar dari rumah jam enam pagi dengan mengendarai sepeda dan membawa kue dalam keranjang yang ditempatkan bagian belakang sepeda tersebut.Pagi-pagi aku harus keluar untuk menjajakan kue tersebut pintu kepintu, walau hari ini hujan dan banjir yang menggenangi sebagian jalan di daerah perumahan yang saya jajakan, tak menyurutkan semangatku untuk mengetuk pintu dan menuju pelangganku yang setia setiap pagi mengharapkan kue bikinanku, aku senang jika kue yang aku jajakan habis terjual tapi pagi ini karena ada banjir aku sedikit kesulitan untuk menjajakannya sehingga hari ini kue masih sisa, perasaanku sedikit kecewa, tapi aku tidak putus asa akan hal ini, jika kue ini sisa tetangga ku akan ku berikan, dan mereka cukup senang, cukup memberi kepuasan batin karena indahnya berbagi.

         Sedangkan suamiku seorang sopir pribadi yang gajinya cukup untuk membayar kontrakan kami tempati, kami mengontrak dua petak, yang satu untuk tidur kami dan yang satu untuk usaha kami , satu pintu dihargai limaratus ribu rupiah ,itu belum termasuk air dan listrik, jika di hitung -hitung dengan penghasilan suami yang gajinya sekitar dua jutaan kami bisa punya sisa simpanan sekitar lima ratus ribuan, melihat kondisi ini , sisa uang tadi aku olah kembali dengan berjualan membuat kue sehingga uang kami berkembang, dan dapat menopang kebutuhan rumah tangga kami dan mencukupi anak anak kami beserta nenek di kampung.

          --ting tong ting tong---

Ku dengar jam dinding  menunjuk arah jam dua belas malam, aku sadar aku sudah terlalu lama melamun malam ini, sambil ku gosokkan balsam ke kaki ku yang tampak kedinginan, sambil ku kembalikan foto kedua anakku ini kedalam bantalku, biar ku bisa bermimpi malam ini bersama mereka, "aku kangen mereka" sambil ku usap wajah mereka yang memberikan semangat disetiap langkahku,  seraya berbisik mama janji akan datang menemui mereka dan membelikan apa saja yang mereka mau supaya mereka senang jika ketemu aku nanti, sambil tersenyum keberusaha memejamkan mata sambil berdoa supaya aku bisa memimpikam mereka dalam mimipi-mimpiku malam ini.

       ---kring kring kring---

Suara jam beker itu berbunyi membangunkanku disaat mimpiku di mulai, perasaan baru sebentar aku tidur , waktu menunjuk jam tiga pagi, dan aku harus mempersiapkan daganganku pagi ini,dengan bersemangat kubasuh mukaku dan berwudhu untuk melaksanakan solat tahajud malam ini, supaya apa yang aku cita-citakan dapat dikabulkan oleh Allah...selesai sholat ku berdoa:

  "Ya Allah..terimakasih malam ini aku bertemu denganmu, mohon ampuni lah dosa-dosaku,dosa- dosa kedua orang tua ku , peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku sewaktu kecil, dan saat ini ya Allah sedang aku repotkan untuk mengurus kedua anakku, YaAllah yang maha pengampun dan penyanyang ..mohon ampuni dosa-dosaku yang telah meninggalkan kedua anakku dan memberi sedikit kasih sayangnya kepada mereka demi sedikit materi, Ya allah mohon ampuni dosaku Ya Allah semoga rizki yang kami terima memberikan berkah bagi keluarga kami semua amin dan mohon lindungi anak anak kami yang berada jauh disana , hanya kepadamu tempatku mengadu dan memohon perlindungan serta pertolongan , Aminn."

         Kembali ke dapur ku segera membuat dagangan, tiba-tiba ada suara telepon berdering dan segera aku angkat dengan perasaan penasaran, waktu menunjuk jam lima pagi , "ada apa gerangan ya"? itu pertanyaan dalam hatiku, disana aku dengar suara anak perempuan yang tak lain anakku perempuan yang bernama Siti, sambil sedikit menangis, aku bertanya " ada apa sayang, pagi-pagi telepon , gimana khabarnya, adik udah bangun belum?

"adik semalam muntah muntah ma, dan sekarang badannya panas "

sedikit kaget, "udah minum obat belum dedenya"?

"belum ma, sekarang dede pucat, dan lemes".

"mana nenek coba mama mau ngomong"..

"ya , tadi udah dikasih teh manis hangat ,nduk,entar siangan baru bawa ke dokter" saut ibuku yang disana.

"kenapa gak ke pak mantri aja, bu pagi -pagi gini mereka bisa diketuk pintunya"

"iya , entar di usahain," saut ibuku

"jangan sampai terlambat bu, kasihan budi" sebutan anakku laki-laki kedua ku .
 Sambil menyudahin pembicaraan telepon kami  dan kembali membuat kue untuk dagaganku pagi ini.

             Dengan perasaan agak kacau ku berusaha membenahi dagaganku yang mulai selesai, tapi aku masih kepikiran dengan anakku yang kedua ini yang baru berusia dua tahun harus sakit dan aku sedang tidak ada disampingnya, andai aku ada di sampingnya, "YA Allah" kembali kusebut nama-Mu berulang kali tak henti-hentinya air mataku ku ini mengalir atas kesedihan yaang menimpa anakku saat ini, cuma bisa mengandai-andai  aku ada disampingnya dan merasa bersalah aku tak berada disampingnya. seraya berdoa " Ya Allah mohon kesembuhan anakku yang bernama Budi", sangat kecil dia merasakan sakit itu dan aku hanya bisa berdoa saja tak bisa berbuat apa-apa.

           Sepeda yang yang kukayuh pagi ini terasa berat , entah kenapa , perasaan aku tadi pagi membuat kue cuma sedikit karena hari ini masih banjir, jadi cuma sebagian rumah yang ku ketuk, dan supaya tidak sisa seperti kemarin, mungkin hatiku yang banyak memikirkan anakku yang jauh disana lagi meradang menahan sakit,Aku segera mengayuh sepeda itu segera untuk kutawarkan kepelangganku pagi ini,.Alkhamdulillah pagi ini dagaganku habis dan aku segera mampir ke pasar untuk membeli bahan untuk membuat kue besok.Sesampainya di rumah waktu menujukkan angka sebelas ku kembali telepon menghubungi keadaan anak-anakku di kampung,

" hallo, ibu gimana khabar budi ? jadi di bawa ke pak dokter?"

"jadi ,dan sekarang dia lagi bobo tadi abis minum obat".saut ibuku.

Pesaaanku lega seraya berkata" syukurlah, siti gimana sekolahnya?"

balik ku bertanya anakku yang pertama kepada ibuku.

"Siti baik-baik aja kok" kata ibuku disana.

"ooh, ya syukurlah semua kembali normal dan baik-baik saja" sambil kututup kembali teleponku.

              Kembali ke dapur ku siapkan dagaganku untuk esok hari dengan semangat aku dapat memberikan terbaik bagi keluargaku dan anak-anakku , berharap banyak rizki esok hari , dengan membuat dagangan yang lebih hari ini.Dengan perasaan senang ku kembali beraktifitas membuat kue.Dan berharap ingin menemui mereka nanti ,selepas semua kerinduanku pada mereka.Mereka adalah semangatku untuk terus melangkah menggapai semua mimpi yang kami telah kami cita citakan, yaitu berkumpul bersama mereka jika mereka besar nanti dan hidup dalam kecukupan.Amin

                                                                                                                 

                                                                           Cengkareng,16 Januari 2013
                                                                            -sri.s-

            




           
           
           


No comments:

Post a Comment

Followers